MATARAKYAT.INFO | Ramadhan, bulan penuh berkah, waktu yang tepat bagi kita untuk merenung dan memperbaiki diri, salah satunya di bulan suci ini adalah bagaimana menjaga lisan kita agar tidak terjerumus dalam dosa besar, seperti fitnah.
Sebuah kisah inspiratif yang menggambarkan betapa berbahayanya fitnah bagi diri seseorang. Kisah ini mengisahkan seorang murid yang melontarkan fitnah kepada gurunya. Setelah menyadari kesalahannya, sang murid memohon maaf kepada gurunya, dan sang guru pun menyanggupi permohonan itu dengan satu syarat yang cukup berat.
Kemudian sang guru berkata, “Sekarang kamu kembalilah kerumah dan besok kembali lagi sambil engkau cari dan kumpulkan bulu ayam yang sudah engkau cabut dari kemocengnya!” Sang murid terkejut, mana mungkin?!
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tapi karena ini adalah perintah guru, maka ia berusaha dan keesokan harinya ia kembali ketempat guru dan menyatakan, “Mohon maaf pak guru, saya hanya bisa mengumpulkan tiga helai dari bulu ayam yang telah saya saya lepaskan dari kemoceng.”
Sang guru tersenyum sambil berkata, “Begitulah fitnah yang telah engkau sebarkan tentang diriku, bagaimana engkau akan kembali menarik semua ucapan yang telah engkau sebarkan.”
Pelajaran dari kisah ini hati-hatilah dengan fitnah, djelaskan dalam Al-qur’an surat Al-Baqarah 191 : “Wal fitnatul asyaddu minal qotli (Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan).”
Karena ketika orang difitnah tidak hanya fisiknya yang mati tapi juga spikologis, keluarga, semuaya akan mengalami dampaknya, oleh karena itu dibulan Ramadhan ini, mari kita jaga. Karena puasa sejatinya tidak hanya sekedar menahan lapar, dan dahaga saja, tetapi puasa juga harus mampu menahan semua yang bisa membatalkan puasa.
Tidak hanya membatalkan dari puasa itu sendiri, secara fiqih mungkin ketika kita mampu menahan lapar, tidak makan dan minum, tidak melakukan hubungan suami istri disiang hari, mungkin sah puasa kita secara fiqih tetapi pahala puasa kita bisadaja hilang atau habis karena tidak mampunya menjaga lisan apalagi menyebar fitnah.
“Jangan sampai saudara kita mati raga fisiknya, mati perasaannya, mati secara sosialnya, gara-gara fitnah yang kita lontarkan, mulutmu harimau mu, maka jagalah!”
Mudah-mudahan kita tidak termasuk seperti kata Rasulullah “Betapa banyak orang yang puasa akan tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali lapar, dan dahaga.” (HR. An Nasa’i dan Ibnu Majjah).
Kita berdoa agar dibebaskan dari fitnah hidup dan mati, fitnah dunia dan akhirat. Untuk itu dianjurkan menambahkan do’a ditasyahud akhir ketika kita sedang sholat dengan membaca do’a ini : Allahumma inni audzubika min ‘adzabi jahannama wa min adzabil qabri wa min fitnatil mahya wal mamati, wa min syarri fitnatil masihid dajjal. Artinya: “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah al-masikh ad-Dajjal” (HR Muslim).
Oleh: Ir. Fadillah Sabri, S.T., M.Eng., IPM
Penulis : Merna Abbas
Editor : Adhitya Eka



















































































































































































































































































































































